GURUKU SUKA MARAH
Tidak ada manusia yang senang dimarahi, dibentak atau bahkan
dicaci maki, termasuk juga siswa sekolah. Siswa sebagai sebuah pribadi memiliki
perasaan dan hati yang sama seperti manusia lainnya, maka pantaslah harus
dihargai sebagai sebuah status yang tak bisa ditawar lagi. Mereka adalah
penerus bangsa, penerus cita-cita dunia, yang suatu saat akan menggantikan kita
menempa bangsa ini menjadi lebih mulia. Karenanyalah sudah saatnya sebagai
pendidik, seorang guru lebih mengajarkan cinta kasih sehingga nantinya mereka
meniru dan melakukannya dalam tindakan nyata, sehingga lahirlah sebuah generasi
yang ikhlas memberi sumbang asih bagi negera.
Guru sebagai seorang
pendidik yang telah dibekali seperangkat keahlian dan pengetahuan yang mendalam
seyogyana harus mampu mengayomi anak didiknya. Mampu Memberikan sebuah
pembelajaran yang membuat mereka nyaman. Sesekali atau seringkali sewajarnya juga
diajarkan pula motivasi hidup, agar cita-cita mereka menjadi lebih hidup. Tak hanya
memberi pengetahuan seputar pendidikan, tapi juga harus mengena pada segi tentang
hidup kemasyarakatan. Alangkah indah sebuah kolaborasi yang memadukan
pengetahuan dengan kenyataan, yang mampu membuka mata mereka tentang harapan. sehingga
tak lagi ada yang lesu ketika mimpi di masa lalu yang mereka rencanakan tak tertuju.
Karena pendidik telah membentengi siswa dengan pengetahuan yang mencerahkan dalam memandang kehidupan.
Kenyataan yang ada seringkali tak sejalan dengan tujuan yang
disusun logika, karena masih banyaknya dari kita yang tahu menuju porsi itu,
masih jadi momok yang belum menemukan titik temu. Kita selama ini masih banyak
menemui pendidik yang lebih mengedepankan emosi dibanding pendekatan hati. Ketika
murid salah maka kemudian hukuman atau kemarahan yang lebih dikedepankan. Ketika
peserta didik tak mentaati aturan, tanpa pesan yang diutarakan kemudian lebih
diutamakan langsung memberikan ganjaran.
Maka kemudian yang menjadi pernyataan adalah apakah dulu
diajarkan seperti itu? Lalu kemudian kebiasaan itu diteruskan pada saat ini. Apakah
tidak bosan? menghentikan tradisi ini. Dengan
terus melakukan itu, mereka akan meniru dan meneruskannya dalam generasi yang
baru.
Guru itu di gugu dan ditiru. Dengan demikian maka alangkah
bijak menata kembali kata, logika, dan cara secara lebih manusia, sehingga bisa
memanusiakan siswa secara sepantasnya. Sehingga dimasa yang akan datang tak ada
lagi yang mengenal “guruku suka marah”.

Tidak ada komentar untuk "GURUKU SUKA MARAH"
Posting Komentar
berikan komentar yang membangun secara baik dan bijak ya kawan!!!!