KEGAGALAN KARUNIA TUHAN


Gagal bagi banyak orang selalu dikatakan tidak enak, tidak nyaman, bikin sedih, bikin frustasi, dan yang paling parah dan gak masuk diakal kadang ada beberapa orang super edan yang karena gagal menjadi tidak ingin hidup lagi di dunia ini (jangan jadi yaang terakhir ini ya gan...dosa)..

Saya akui bahwa kegagalan memang membuat semuanya suram. Semua hal yang kita miliki gak bisa buwat kita seneng, karena terlanjur bahwa hati sudah kita jejali dengan sumpah serapah..Kata-kata kita penuh dengan mencaci maki dunia.

Nasihat ortu  tak mempan, kata-kata pacar hanya dianggap bualan, apalagi kata sobat hanyalah angin lalu yang gak perlu di dengar. Intinya gagal itu membutakan semua hal... sehingga seolah dunia ini hanya ada kepedihan.

Saya pernah dalam kondisi itu. Mengalami masa-masa yang paling sulit dalam hidup. Semua hal serba tak jelas, ingin menangis, perih, penuh sesak di dada. Memandang kearah depan tak memiliki tujuan. Hidup serasa diisi kekosongan.

Pengalaman ini terjadi semasa kuliah.

Semasa kuliah aku termasuk orang yang eksis, gaul, dan punya banyak teman. Di lingkungan perkuliahan ketika teman kosku tak ada yang pergi ke kampus, aku adalah orang yang tak pernah merasa sendirian di kampus. Karena dimanapun tempatnya di kampus, aku punya cukup banyak teman. Boleh di bilang aku adalah orang yang terkenal (tapi bukan artis...he).

Dalam pertemanan di kampus, aku termasuk orang sangat setia. Kesetiaanku ini cukup teruji.
Seringkali ketika sampai kampus, aku mengunjungi terlebih dahulu kantin favorit untuk melihat-lihat ada orang atau tidak (padahal aku sudah tahu pasti ada, wong kampus itu mahasiswa banyak dan yang nongkrong di kantin juga banyak sekali).

Ketika menjumpai salah satu teman dan asik ngobrol, karena aku termasuk tipe setia, maka kerapkali aku jadi gak jadi ngampus (bahasa istilahnya mengikuti perkuliahan)  karena lebih memilih setia ini.
Gaya hidup tersebut menjadi kebiasaan dan alhasil menjadi sebuah konsumsi yang cukup nikmat. Maka kemudian pikiran tercetak kata “Nongkrong lebih asik di bandingkan ikut perkuliahan. Nongkrong jadi lebih gaul dan eksis”.

Selain itu karena aku asal mulanya orang ndeso, yang melancong ke kota. Menikmati kondisi yang cukup aman ini karena gak ada yang mantau, menjadikanku lupa daratan. Tujuan utamaku kuliah semakin terpinggirkan menjadi rutinitas sampingan karena aku lebih memilih hal lainnya yang sebenarnya bukan tujuan tapi terasa menakjubkan. Maklumlah baru mengenal sisi lain kehidupan, karena kurang pengalaman, tak ada wawasan, yang dulu hanya kenal kesederhanaan, menemukan suatu hal yang baru menjadikanku berusaha untuk sedikit mencicipi secuil kenikmatan dunia yang membawa petaka..

Kebiasaan ini pada titik puncaknya mengakibatkan kuliahku hancur berantakan. Nilaiku jatuh tajam, orang tua marah, dan paling parah adalah aku tak bisa lulus tepat waktu. Semuanya terasa tak enak kawan . Menjalani itu, perih rasanya, hancur lebur segala-galanya. Seperti permata jadi debu. Tak ada yang yang diharapkan.

Beberapa waktu harus kulalui dengan perasaan pedih, hingga akhirnya secara perlahan aku menegarkan diri dan berusaha bangkit  dan mencoba memperbaiki apa yang kujalani.. sampai akhirnya aku bisa lulus dengan cukup meengharukan.

Aku lulus di semester 14. Lewat semester itu dipastikan 99% kena DO. Melewati masa yang cukup lama itu ternyata  bikin sakit hati yang mendalam. Sampai semester 14, aku melewati 5 kali wisuda. Teman-temanku wisuda, aku gigit jari...Bagaimana rasaanya perasaanku kawan....air mataku sampai habis terkuras jika saja aku bisa menitikkkan air mata...mukaku merah padam karena malu. Tak dapat kubayangkan sama sekali.

Berusaha bangkit itu ternyata lebih sulit (aku baru sadar..he) . hari-hari kujalani dengan sendirian, Kuliah sendiri, mengerjakan tugas sendiri, malas sendiri, rajin sendiri, semua hal harus serba mandiri.
Hal yang paling bikin kesal adalah setiap semester harus ganti teman dan kelas (karena banyak yang lulus tiap semester) pokoknya hari-hari yang kulalui itu tidak sama sekali tak nyaman.

Maka betul sekali, Jika gagal maka siap-siap untuk selalu kehilangan....karena banyak teman yang pergi begitu saja.

Walaupun berat, tapi banyak pengalaman yang terdapat dalam perjalanannya kawan. Dulu aku gak percaya tentang kata-kata dari motivator, tapi setelah mengalami sendiri baru kuketahui bahwa apa yang mereka katakan itu 99,9% benar adanya.

Aku dulu merasa aku gak bisa bangkit, aku gak bisa lulus, aku tak punya harapan.
   
Tapi satu hal yang aku pegang, aku terus berusaha berjalan. Prinsipku untuk lulus kuubah menjadi apapun yang positif. Aku terus melangkah, memang itu berat, tapi harus harus kulakukan, karena ada yang bilang kegagalan tidak akan membunuh sang tuan. Aku lebih cenderung berpikir menemukan sesuatu yang baru, menemukan hal-hal positif untuk merubah hidup, toh tanpa lulus yang penting aku jadi lebih baik. Itu adalah prinsip yang aku pegang. Maka walaupun gagal, prinsip harus tetap berjalan. (boleh spendapat, boleh juga tidak he)...

Dari pengalaman itu, setelah bertahun terlewati maka kesadaran akan tumbuh.

Saya akhirnyaa lebih memahami, bahwa kegagalan adalah jalan. Sebuah jalan yang menuntun kita menjadi orang yang berbeda, dengan pikiran yang lebih baik . kegagalan akan merubah pemikiran kita. Ketika kini terjadi kesukaran, maka akan menjadi suatu hal yang biasa, karena kita sudah pernah mengalami hal lain yang lebih luar biasa.

Tersenyumlah kawan. Kegagalanmu itu sebuah karunia.

Tuhan memberikanmu jalan kegagalan karena dia tahu bahwa kamu pantas menjadi lebih baik.....

Kegagalanmu adalah jalan menjadikan karaktermu lebih kuat..jalan yang membuang perasaan lemah padamu.....

Jika kamu bisa melewati dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, hidupmu dipastikan lebih baik dan jauh lebih berbahagia. Karena melalui gagal kamu diuji kesabaran dan kesabaranmu adalah jalan meniti kebahagiaan.





Tidak ada komentar untuk "KEGAGALAN KARUNIA TUHAN"